Lidyasandy Ariviarahman Nyaman Saat Menjadi Perancang Busana

"Sebelum ke Jepang, aku juga berangkat ke Eropa untuk tampil di Austria,"

istimewa
Lidyasandy Ariviarahman 

“KALAU aku nggak nyoba aku pun nggak akan pernah tahu hasilnya, "

Begitulah ungkapan yang dirasakan Lidyasandy Ariviarahman (25) ketika ia melewati berbagai tantangan dalam bisnis fesyen yang dijalaninya.

Fashion designer ini sudah menekuni dunia fesyen tujuh tahun lamanya.  Ketertarikan Lidyasandy akan fesyen pun dibangunnya sejak kuliah yang ikut kelas jahit selama enam bulan dan dilanjutkan dengan Kuliah Tata Busana di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Lidyasandy Ariviarahman
Lidyasandy Ariviarahman (istimewa)

Awal mula senang akan dunia fesyen, bermula dari menyukai dandan dan mix and match pakaian sejak SMA.

"Waktu itu ingin kerja di majalah dan aku pengen jadi fashion stylist bukan fashion designer, " ujarnya saat dihubungi Tribun, Rabu (28/4).

Namun ternyata Lidya menemukan rasa nyaman ketika menjadi fashion designer.  "Kalau jadi fashion designer aku bisa handle semuanya mulai dari ngarahin make up dan ngarahin fotografer juga," ujarnya.

Baca juga: Inilah Tia, Sosok Kartini Modern, Ibu Rumah Tangga yang Juga Machine Learning Curriculum Developer

Memiliki brand hasil rancanganya dengan nama byldy, Lidyasandy juga terkena dampak pandemi dengan berkurangnya pelanggan yang datang untuk merancang pakaian.

"Berkurang lebih dari 40 persen karena acara juga sepi dan aku bertahan lewat penjualan masker, " ujarnya.

Nama brand byldy pun semakin ramai dikenal setelah produknya digunakan oleh personel Jurnal Risa.

Lidyasandy Ariviarahman
Lidyasandy Ariviarahman (istimewa)

Mukanya, kata Lidya, sang manager Jurnal Risa memesan wedding dress dan wedding groom padanya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved