Dadang Mulyana: Berterima Kasihlah Pada Pengalaman Hidup

"Jadi hari-hari saya sepulang sekolah ya ngangon (mengembala), dalam seminggu terus ngangon,"

Editor: adityas annas azhari
Tribun Jabar/Kemal Setia Permana
Ketua Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan, Dadang Mulyana 

MENCAPAI keberhasilan memang lebih indah jika dilalui dengan perjuangan keras dan tak kenal lelah.  Selain kita akan mampu lebih menghargai segala jerih payah hasil kerja keras, hal ini akan mampu memberikan pengalaman yang berharga bagi hidup dan tentu saja akan menjadi sebuah fondasi yang akan memperkuat kehidupan di kala cobaan dan godaan menerpa,

Kurang lebih seperti itulah filosofi kehidupan yang diungkapkan oleh Dr Dadang Mulyana MSi, Ketua Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan.

 Menurut Dadang, keberhasilan dan kesuksesan seseorang, tidak akan selalu diraih dengan perjalanan yang mulus, namun tidak jarang harus ditempuh melalui sebuah perjalanan panjang dan berliku.

Dadang Mulyana, Ketua Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan.
Dadang Mulyana, Ketua Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan. (TribunJabar/Kemal S P)

"Berterima kasihlah kepada pengalaman hidup, karena dari pengalaman hiduplah seseorang akan ditempa dengan kekuatan dan kesabaran,"kata Dadang kepada Tribun Jabar di kantornya, Jalan Sumatra 41, Bandung, belum lama ini.  

Hal ini, menurut Dadang, tidak saja berkaca dari perjalanan hidup orang lain, namun bahkan dirasakan sendiri olehnya ketika dulu ia menempa ilmu hingga kini sukses menduduki kursi Ketua YPDM Pasundan.

Baca juga: Gadis Penjual Cilok yang Bercadar di Indramayu Ini Gemar Mengajar dan Ingin Melanjutkan Kuliah

Perjalanan pria kelahiran Maret 1960 dimulai dari sebuah desa di Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Saat menempuh pendidikan sekolah dasar, Dadang harus menempuh perjalanan darat dengan berjalan kaki sepanjang 4 km setiap hari. Perjalanan akan semakin berat manakala hujan dan banjir datang. Ia harus melepas sepatu dan menggantungkannya di leher agar tidak terlalu basah.

"Setiap hari selama enam tahun begitulah kondisinya, kita semua tahu bagaimana dulu kondisi pedesaan di tahun 60-an kan," katanya.

Baca juga: Gadis yang Tinggal di Hutan Kaki Gunung Tangkuban Parahu Ini Bertekad Kuliah di Perguruan Tinggi

Meski berasal dari keluarga yang bukan miskin, namun Dadang juga bukan tergolong orang yang terlalu berada saat itu. Bersyukur, kesabaran dan kegigihannya membuahkan hasil dengan keberhasilannya meneruskan sekolah ke bangku SMP.

Tahun1970-an saat itu, kata Dadang, tidak mudah masuk ke SMP.  Dari ratusan anak di kampungnya, hanya empat orang, termasuk Dadang, mampu meneruskan ke bangku SMP. Di masa inilah Dadang pun sempat harus mengembala kambing sepulang sekolah di hari biasa dan mengembala kerbau di hari Minggu milik kakeknya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved