Melongok Sentra Borondong di Ibun,Perajin Meneruskan Usaha Warisan Orang Tua

"Jadi orang-orang kaya itu mengirim gabah ketan dan gulanya. Mak Erah hanya menyediakan tenaga,"

Tribun Jabar/Januar P Hamel
Yeti membuat borondong di rumahnya, Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. 

BORONDONG  adalah makanan khas Majalaya. Biasanya penganan ini dijual di tempat oleh-oleh khas Bandung. Makanan ini  sudah telanjur terkenal berasal dari Majalaya. Padahal, borondong adalah berasal dari  Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Di Desa Laksana terdapat delapan rumah yang penghuninya menjadi perajin borondong.  "Kalau yang di tepi jalan hanya ada empat perajin," kata Yeti (38), perajin borondong di Desa Laksana saat ditemui di rumahnya di Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun,  Kamis (1/4/2020).

Yeti menjadi perajin borondong sejak empat tahun lalu. Dia meneruskan usaha orang tuanya yang sudah berjalan lama sekali.

Yeti  membuat borondong di rumahnya, Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.
Yeti membuat borondong di rumahnya, Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

Menurut Yeti borondong memang terkenalnya berasal dari Majalaya. Yeti pun tidak bisa berbuat apa-apa sebagai perajin borondong yang berasal dari Ibun. "Dari dulu tidak ada yang mempersoalkannya," kata Yeti.

Mak Erah, nenek Yeti, adalah perintis pembuat borondong di Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Mak Erah, kata Yeti, mulai membuat borondong pada 1965. Saat itu, menurutnya, Mak Erah membuatkan borodong untuk orang-orang kaya.

Baca juga: Kampung Langseng di Cileunyi Kulon Kabupaten Bandung, Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

"Jadi orang-orang kaya itu mengirim gabah ketan dan gulanya. Mak Erah hanya menyediakan tenaga," kata Yeti.

Usaha Mak Erah terus berkembang. Dan menurut Yeti, perajin borondong di Sangkan, dulunya bekerja di Mak Erah.  "Mereka usaha sendiri di rumah masing-masing," kata Yeti.

"Termasuk juga cucu dari Mak Erah ikut meneruskan warisannya," katanya.

Menurut Yeti, termasuk ibunya ikut meneruskan usaha neneknya itu. Awalnya bareng, namun karena banyak orderan, mereka berpisah membikin usaha sendiri.

Yeti mengaku mulai belajar membuat borondong sejak usia tiga tahun kepada neneknya. Dia mengaku terus belajar hingga SMP.

Namun, Yeti mulai membuka usaha borondong sejak empat tahun yang lalu.  "Saya meneruskan ibu saya, Wawat namanya. Beliau sudah meninggal empat tahun lalu," kata Yeti.

Yeti perajin borondong di Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.
Yeti perajin borondong di Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

Adapun Wawat meneruskan warisan neneknya Yeti, Mak Erah. Dia menjadi perajin borondong selama sembilan tahun hingga meninggal dunia empat tahun lalu.

Dalam laman wisatabdg.com, disebutkan makanan ini pertama kali dibuat oleh Ambu Enit sekitar tahun 1920-an.

Tadinya makanan ini bukan untuk dijual melainkan untuk keperluan peribadi sebagai camilan.

Pada 1940-an anak-anak Ambu Enit, Bi Anah, dan Bi Tarsih membuatnya untuk memenuhi kebutuhan orang untuk keperluan hajatan.

Baca juga: Badan Usaha Milik Desa Ini Memperoleh Laba Bersih Rp 550 Juta di Tengah Pandemi Covid-19

Pada awal tahun 1950 makanan ini mulai diketahui banyak orang.

Tetangga-tetangga Bi Anah dan Bi Tarsih pun ikut membantu membuat borondong. Mereka adalah Iming, Enah, Erah, Encoh dan Ioh.

Kemudian mereka merintis membuat makanan ini untuk memenuhi pesanan yang semakin banyak. Mulai dari sanalah makanan ini menjadi jualan warga setempat.

Ketan

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved