Di Kampung Balemalang Majalengka, Jumlah Bangunan Tidak Boleh Lebih dari Tujuh Unit

"Orang pertama yang tinggal di sana adalah Buyut Rahan dan Babu Janati pada 1920-an,"

Tribun Cirebon/Eki Yulianto
Rumah di Kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. 

TAK hanya keindahan alam yang ada di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kota ini pun menyimpan tempat-tempat yang bernilai historis, seperti  kampung yang masih memelihara tradisi masa lampau.

Sebut saja Kampung atau Dusun Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.

Suasana di Balemalang masih asri.  Jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Kampung ini sangat nyaman dikunjungi.

Suasana Kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.
Suasana Kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Konon, sejak dulu rumah di Balemalang tidak pernah bertambah, yakni hanya ada tujuh rumah. Sekarang, bangunannya berkurang menjadi lima dan satu bangunan menjadi musala.

Kampung tersebut berjarak 4 kilometer dari kantor desa. Aksesnya jalannya mulus karena beraspal.

Baca juga: Setiap Bulan Agah Menjual 80 Kg Ikan Gabus, Harganya Rp 80.000 Per Kg, Bagus untuk Pengobatan

Hanya saja, untuk mencapainya tidak mudah, apalagi dengan kendaraan roda dua  karena kondisi jalan yang kecil dan menurun tajam.

Menurut Ketua Grup Majalengka Baheula (Grumala), Naro, Kampung Balemalang merupakan kampung yang dibilang tanggung. Kondisi alamnya  yang alami, tapi bangunan rumahnya tidak bisa ditambah.

Kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.
Kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

"Orang pertama yang tinggal di sana adalah Buyut Rahan dan Babu Janati pada 1920-an," ujar Mang Naro begitu biasa disapa kepada Tribun, Sabtu (20/3/2021).

Dia  tidak mengetahui alasan Buyut Rahan tinggal di kampung itu. Bisa jadi, katanya, untuk bersembunyi atau memang menghindari pertempuran pada saat penjajahan Jepang.

Baca juga: Dari Bisnis Ikan Cupang di Caracas, Ibnu Meraih Rp 5 Juta Per Bulan

"Belum jelas asal muasal kenapa Rahan tinggal di sana. Apakah menghindari pertempuran, membuang diri, atau hanya ingin menghindari keramaian dan ingin menyepi. Suasana di lingkungan tersebut sangat sepi dan nyaman untuk beristirahat," kata dia.

Mang Naro menyampaikan, saat ini, kampung tersebut ditinggali lima Kepala Keluarga (KK). Mereka merupakan generasi ketiga dari Buyut Rahan.

Ketua Grumala, Naro, saat berbincang dengan warga Kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.
Ketua Grumala, Naro, saat berbincang dengan warga Kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

"Jadi menurut warga setempat, kampung ini didirikan oleh orang tuanya. Katanya sebelum penjajahan Jepang itu sudah ada," ucapnya.

Warga setempat kesehariannya berprofesi sebagai petani. Selain itu, ada juga yang berketerampilan membuat anyaman dari rotan maupun bambu.

"Kehidupan di sini sangat asri, nyaman dan sejuk. Apalagi, penduduknya ramah-ramah membuat suasana kekeluargaan begitu terasa," jelas dia.

Baca juga: Scottish Fold, Kucing yang Lagi Ngetren Dipelihara, Banyak Disukai Artis

Mang Naro menjelaskan, dinamakannya Balemalang sendiri dikarenakan pada 1930-an, di kampung tersebut dibangun sebuah kantor balai desa. Namun, karena menghalangi jalan, bale desa itu dipindahkan ke tempat lain.

"Kantor desa itu dipindahkan ke Balagedog,” katanya. (tribunjabar/eki yulianto)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved