Menjadi Korban PHK Saat Pandemi, Omzet Maryamah Jualan Harum Manis Kini Rp 18 Juta Per Minggu

"Harum manis di 30 warung itu habis dalam dua hari. Itu memang enggak banyak. Setiap warung kami pasok satu bal"

Editor: adityas annas azhari
Tribun Jabar/Irvan Maulana
Maryamah dan harum manis produksinya 

BARU beberapa bulan Maryamah (41), menjajal peruntungannya dengan berbisnis harum manis. Tidak disangka, bisnis ini ternyata sangat menguntungkan.

Bermodal uang pesangon yang cuma Rp 3 juta, omzet harum manis Maryamah terus meroket. Omzetnya sudah mencapai Rp 18 juta per minggu.

Sebelum beralih usaha ke bisnis harum manis, Maryamah bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik garmen di Subang. Namun, pandemi Covid-19 membuat pabrik itu kesulitan. Sejumlah karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk Maryamah.

Sejak bulan Agustus, praktis Maryamah pun tak lagi pekerjaan. Ini membuat ibu tiga anak, warga Kampung Hamerang, Desa Tanggulun Timur, Kalijati, itu terpaksa memutar otak. Terlebih uang pesangonnya tak besar, dan akan dengan segera habis dika tak dipergunakan untuk  usaha.

harum manis produksi maryamah di Subang
harum manis produksi maryamah di Subang (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Pilihan pun akhirnya jatuh pada usaha harum manis. Di mana Maryamah, jajanan manis anak-anak itu sangat menjanjikan. Pasarnya jelas, mudah terjual, dan tak memerlukan modal yang banyak.

Pilihan berbisnih harum manis juga dipilih Maryamah karena bisnis ini bukan bisnis yang asing bagi dirinya.

Sebelum di-PHK duli, ia dan suaminya, Ade Wahyudin, kerap mencari tambahan penghasilan dengan berjualan harum manis sepulang bekerja di pabrik. Dari itu pula mereka berhasil menyekolahkan anak-anak mereka. Dua di antaranya kini bahkan sudah kuliah di perguruan tinggi ternama di Jawa Barat.

Setelah PHK, Maryamah pun menyeriusi usaha ini bersama suaminya. Bermodal sisa uang pesangon, mereka membeli satu mesin kecil pembuat harum manis.

Baca juga: Kopka Hamim yang Sederhana dan Penuh Dedikasi ini Mendapat Rumah Layak Huni dari Waka Polres Subang

Dengan mesin itu, mereka mampu mengolah lima kilogram gula menjadi puluhan bal haru manis, yang mereka pasarkan ke 30 warung yang berada di dekat rumah mereka.

"Harum manis di 30 warung itu habis dalam dua hari. Itu memang enggak banyak. Setiap warung kami pasok satu bal, isinya ada 10 pieces," ujar Maryamah saat ditemui di kediamannya, Rabu (17/3/2021).

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved