Jualan Pakaian Bekas Layak Pakai, Emon Mampu raih Omzet Rp 50 Juta Per Bulan

Dulu kan thrifthing masih hal yang tabu ya, dianggap sebelah mata deh karena imej barang bekasnya

Tribun Jabar/Shania Septiana
Thrift Online Shop 

SELAMA Pandemi COVID-19, banyak orang yang memulai membuka usaha di bidang makanan dan minuman. 

Namun tidak hanya itu, kini banyak juga yang mulai menjual barang bekas atau yang biasa kita kenal dengan Thrift Shop

Biasanya, barang yang dijual adalah berbagai macam pakaian yang tidak terpakai dan dimodifikasi sedemikian rupa agar tetap terlihat baru dan kekinian. 

Tren mode fesyen tersebut juga dibarengi dengan maraknya kampanye mengurangi penggunaan mode fast fashion yang menumbuhkan bisnis thrift store atau pakaian bekas di dalam negeri.

Anita Novianti pemilik Thrift Online Shop
Anita Novianti pemilik Thrift Online Shop (Tribun Jabar/Shania Septiana)

Salah satu pemilik thrift store online Anita Novianti (24) mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp 50 juta per bulan.

Mahasiswa yang akrab disapa Emon ini, menceritakan bagaimana dirinya membangun bisnis online shopnya dengan modal Rp 1 juta.

Ia mengatakan ide bisnis tersebut muncul karena hobinya berbelanja barang bekas.

Baca juga: Diana Biasa Posting Kue-kue Buatannya di Media Sosial, Hasil Keuntungan untuk Uang Jajan Anak

"Berawal dari hobi, zaman kuliah emang sering banget thrifthing tapi dulu buat dipake sendiri gitu, ini sekitar tahun 2016-2017. Dulu kan thrifthing masih hal yang tabu ya, dianggap sebelah mata deh karena imej barang bekasnya, jadi gak banyak orang juga yang suka thrifthing. Nah di tahun 2018 mulai banyak orang ngangkat tentang thrift dan ditahun itu juga mulai banyak bermunculan thrift shop. Dari situ mulai kepikiran dehh, kayanya oke juga kalau coba-coba jualan," ujarnya.

Dengan 103 ribu followers di Instagram online shop-nya, Emon menamakan akun Instagramnya dengan nama @lapakomah.90's.

Thrift Online Shop
Thrift Online Shop (Tribun Jabar/Shania Septiana)

""Sebenernya dulu iseng, bingung juga. Terus kata temen dikasih nama lapak aja. Kan lapak kaya toko gitu ya cuma nama lainnya, nah Emon mikir kalau lapak doang ga enak. Terus mikir harus ada nama panggilan juga , bosen kalau mimin. Awalnya kepikiran lapaknenek, tapi gak enak banget. Jadi aja lapakomah, kan enak panggilannya oma," ujarnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved