Sosok Petani Penggarap

Setiap Hari Halimah Duduk di Tengah Sawah 12 jam, Menjaga Sawah Garapannya dari Gangguan Burung

"Makanya jika hujan cukup deras saya tertolong karena burung tak banyak yang datang,"

TribunJabar/Ferri Amiril Mukminin
Halimah menarik tali yang terhubung dengan kaleng bekas berisi kerikil untuk mengusir burung yang memakan padinya di Sawah Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur. 

DUDUK di tengah sawah di bawah pohon nangka selama hampir 12 jam dalam sehari, rutin dilakukan seorang ibu yang ditemui Rabu (27/1/2021) siang. Ia mengenakan ciput hitam dan sweater merah ini.

Matanya tajam memperhatikan sekeliling seperti menara teropong di lepas pantai yang memberikan cahaya kepada perahu di lautan.

Jika suara burung pipit datang, maka tangannya langsung memegang tali yang terhubung dengan sebuah tiang yang di atasnya ada kaleng bekas yang berisi kerikil.

Sekali ditarik, suara berisik dari kaleng mampu membuat burung pipit yang hendak mematuk padi yang mulai menguning ini pergi.

Halimah menjaga sawah garapannya di Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur
Halimah menjaga sawah garapannya di Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur (TribunJabar/Ferri Amiril Mukminin)

Begitu dan begitu kejadian diulang ibu ini. Ia harus rela 12 jam duduk memperhatikan padinya agar tak dimakan oleh burung Pipit karena sawah di sekitarnya baru ditanam dan hanya miliknya saja yang siap tanam.

Azan Zuhur berkumandang, ia meninggal pos pemantaunya sekitar 15 menit untuk istirahat, makan, dan salat.

Sudah hampir 15 hari, ibu yang belakangan diketahui bernama Halimah (50) ini menjaga padinya yang siap panen dari hama gerombolan burung pipit.

Warga Kampung Rancagoong, Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, ini mengatakan ia harus menjaga padinya selama 15 hari ke depan agar tak berkurang dimakan hama burung.

Baca juga: H Syarifudin Datangkan Indukan Ikan Koi Kohaku yang di Jepang Laku Rp 27 miliar ke Cianjur

Ia mengatakan tak menggunakan orang-orangan sawah karena dengan bekas kaleng diisi kerikil suaranya cukup berisik dan ampuh mengusir burung agar menjauh dari padinya.

Begitulah potret petani penggarap Cianjur saat ini yang berusaha keras agar penghasilannya tak berkurang. Selain memeras keringat mencangkul, membajak, dan menanam, mereka ternyata harus merawat padi dari hama burung hingga siap tanam.

Halimah merupakan seorang petani penggarap yang menanam padi di lahan milik orang lain. Luas sawah yang ia garap seluas 600 meter persegi.

Dari luas wilayah sawah tersebut ia mendapat hasil panen jika sedang baik sebanyak dua ton. Namun jika sedang bernasib buruk karena hama dan lainnya ia hanya mendapat 1.400 kilogram.

Hasil tersebut dibagi dua dengan pemilik tanah. Jadi jika sedang tak mujur Halimah hanya mendapat 800 kilogram dari padi yang ia tanam selama tiga bulan hingga panen.

"Kalau lagi bagus dapat dua ton, kalau lagi jelek dimakan hama dan lainnya hanya 1.400 kilogram," ujar ibu yang mengaku sudah terbiasa memelototi padinya agar tak dimakan burung ini.

Halimah mengatakan, ia tak mengetahui nama alat yang digunakan secara tradisional ini, ada yang menyebut harayhay, golombrang, dan kelencreng.

"Saya mulai membunyikan alat untuk mengusir burung ini dari pagi pukul 06.00 sampai pukul 17.00  kadang sampai Magrib," katanya.

Ia mengatakan, penghasilan dari tiga bulan kadang mendapat Rp 3,5 juta itu sudah termasuk biaya pupuk dan obat-obatan.

Halimah mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya suaminya menjadi buruh tani dan menjadi tukang ojeg.

Seperti sudah mengetahui jam kedatangan burung, Halimah berujar bahwa pagi hari burung datang dari arah timur, lalu sore menjelang petang burung akan datang dari arah barat.

Baca juga: Kisah Ucuy Cihuy, Sempat Jadi Pembantu, Pemuda Kampung dari Cianjur Ini kini Artis Sinetron

"Tapi kelompok kecil yang usil datang hampir sering, makanya harus dijaga seperti ini," kata Halimah.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved