Nanang Menekuni Bisnis Perahu Eretan, Bukan Sekadar Menyeberangkan Penumpang di Sungai Citarum

"Kalau sedikit-sedikit rusak saya yang perbaiki. Tapi kalau rusaknya parah, ya, terpaksa pesan perahu lagi,"

Tribun Jabar/Januar P Hamel
Nanang menyeberangkan penumpang menggunakan perahu eretan di Sungai Citarum, Parunghalang, Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis (31/12/2020). 

BAGI Nanang (44), menjalankan bisnis perahu eretan bukan sekadar mencari uang. Terlebih dari itu, bagi dia menyeberangkan orang di Sungai Citarum merupakan kewajiban.

Nanang sudah lama menjalankan bisnis ini. Dimulai kakeknya pada 1990-an hingga 2012.

Ia baru menerima estafet dari kakeknya untuk menjalankan usaha ini pada 2012. Namun Nanang tidak lantas menerima warisan tersebut. Dia harus membeli dari kakeknya itu Rp 16 juta.

Nanang, pebisnis perahu eretan di Sungai Citarum
Nanang, pebisnis perahu eretan di Sungai Citarum (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

"Harusnya, kan, ke anaknya. Tapi, karena anaknya nggak ada yang mau, termasuk ayah saya. Saya lalu membeli usaha ini bersama adik saya," kata Nanang di pangkalan perahu, Parunghalang, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis (31/12/2020).

Nanang pun menekuni usaha tersebut bersama adiknya, Dede. Mereka bergantian berjaga di dermaga perahu.

Baca juga: Alo Saepudin Setia Menanti Penumpang Kereta Kudanya di Pasar Baleendah Kabupaten Bandung

Ketika orang datang, Nanang sigap menyuruh penumpang untuk menaiki perahu.

Perahu yang dikemudikan Nanang bukan perahu biasa. Agar perahu melaju Nanang memasang tambang. Dia berpegang ke tambang itu dan menariknya.  Nanang pun memasang kursi agar para penumpangnya bisa duduk  nyaman.

Nanang menyeberangkan penumpang menggunakan perahu eretan di Sungai Citarum, Parunghalang, Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis (31/12/2020).
Nanang menyeberangkan penumpang menggunakan perahu eretan di Sungai Citarum, Parunghalang, Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis (31/12/2020). (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

Jarak antara Parunghalang dan di seberangnya, Kampuny Citepus, sekitar 70 meter. Setiap perahu itu sampai di seberang, penumpang biasanya langsung membayar sebelum meninggalkan perahu. Tarif perahu Nanang sekali jalan Rp 2.000.

Sebetulnya Nanang tidak memasang tarif secara saklek. Dia kadang tidak menerima bayaran sepeser pun dari penumpang.

"Ada juga yang tidak bayar. Ya, tidak apa-apa. Ikhlas saja," kata Nanang.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved