Mahasiswi Cantik Ini Tak Malu Jualan Sale Pisang, Turun ke Kebun Mengambil Bahan Baku

"Satu Minggu kami bisa memproduksi dua ton, alhamdulilah untuk bahan baku kami memanfaatkan kebun sekitar sini"

TribunJabar/Ferri Amiril Mukminin
Neng Sonia, mahasiswi Universitas Suryakancana yang menjadi perajin dan penjual sale pisang. Ia tinggal di Kampung Cibadak, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. 

TANGANNYA begitu telaten memilih sale pisang yang sudah dibelah kotak kecil atau lonjong di samping rumah yang dijadikan tempat produksi.

Di hadapannya sang ibu pun terlihat melakukan hal yang sama, tak jauh dari mereka sang ayah sibuk di sebuah perapian besar tungku tradisional mengangkat satu demi satu bambu anyam yang di atasnya terdapat pisang sale yang sudah dipanaskan secara manual.

Selasa (12/1/2021) petang kemarin tumpukan anyaman bambu berisi sale pisang sudah mencapai puluhan. Gerimis yang turun di kawasan Kampung Cibadak RT 01/06, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, tak menjadi hambatan buat keluarga kecil ini untuk tetap menjalankan usaha  kecil sale pisang mereka.

Neng Sonia, mahasiswi Universitas Suryakancana yang menjadi perajin dan penjual sale pisang. Ia tinggal di Kampung Cibadak, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.
Neng Sonia, mahasiswi Universitas Suryakancana yang menjadi perajin dan penjual sale pisang. Ia tinggal di Kampung Cibadak, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. (TribunJabar/Ferri Amiril Mukminin)

Kegiatan dimulai sejak pagi buta. Mulai dari mengupas pisang ambon yang telah matang pohon, memotong, sampai menyusunnya di atas anyaman bambu untuk dijemur.

Jika sinar matahari tak muncul untuk menjemur sale pisang, maka kegiatan bisa sampai hari gelap untuk menghangatkan sale pisang di perapian tungku tradisional.

Selesai menyortir sale pisang di sebuah anyaman bambu, gadis berkulit putih dan berhidung mancung ini berujar bahwa tujuan ia menyortir karena permintaan konsumen.

"Kalau yang dibelah kotak kecil ini permintaan konsumen dari Bandung, kalau yang lonjong kecil ini biasanya untuk konsumen lokal Cianjur," kata gadis pemilik rambut panjang ini membuka pembicaraannya.

Kampungnya yang dikelilingi kebun pisang tak menyulitkan untuk memperoleh bahan baku.

Ia pun tak gengsi turun ke kebun merasakan ikut memanen pisang bersama ayahnya jika waktu panen pisang telah tiba.

Neng Sonia, mahasiswi Universitas Suryakancana yang menjadi perajin dan penjual sale pisang. Ia tinggal di Kampung Cibadak, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.
Neng Sonia, mahasiswi Universitas Suryakancana yang menjadi perajin dan penjual sale pisang. Ia tinggal di Kampung Cibadak, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. (TribunJabar/Ferri Amiril Mukminin)

Tanah kebun yang becek berlumpur di musim hujan sudah biasa ia lewati, demikian halnya dengan nyamuk dan serangga kecil yang sering menggigit kulitnya.

Tak sampai di situ, mahasiswi yang kini sedang menimba ilmu di Universitas Suryakancana Cianjur ini pun selalu membantu pemasaran sale pisang yang menjadi tumpuan usaha keluarganya.

Pemilik nama lengkap Neng Sonia (20) ini pun bangga kepada kedua orangtuanya yang bisa memberikan pendidikan kepadanya hingga bangku kuliah dari berjualan sale pisang.

Baca juga: Perempuan Bisa Mandiri dengan Memulai Usaha

"Sekarang perkuliahan di rumah, jadi saya banyak waktu untuk membantu kedua orangtua memproduksi sale pisang ini," ujarnya.

Ia mengaku sudah terbiasa berjualan membantu memasarkan sale pisang baik ke temannya atau kepada siapapun yang memerlukan sale pisang.

"Kebetulan saya kuliah di (fakultas) pertanian, jadi saya ingin mengembangkan ilmu saya juga termasuk sale pisang ini yang merupakan hasil pertanian," katanya.

Sang ayah, Didin Galing (45), pun bangga kepada anaknya. Di usianya yang masih sangat muda, ia ikut merasakan berjuang membantu perekonomian keluarga.

"Alhamdulillah meski pandemi, kami tetap bisa berusaha dan bertahan, istri dan anak ikut membantu jadi saya tambah semangat," katanya.

Didin mengatakan, semula ia hanya berjualan pisang di Pasar Jebrod. Namun lama kelamaan jika pisang tak laku maka banyak yang busuk.

Alhasil ia mulai merintis usaha sale pisang untuk memanfaatkan pisang yang tak terjual.

Neng Sonia, mahasiswi Universitas Suryakancana yang menjadi perajin dan penjual sale pisang. Ia tinggal di Kampung Cibadak, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.
Neng Sonia, mahasiswi Universitas Suryakancana yang menjadi perajin dan penjual sale pisang. Ia tinggal di Kampung Cibadak, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. (TribunJabar/Ferri Amiril Mukminin)

"Satu Minggu kami bisa memproduksi dua ton, alhamdulilah untuk bahan baku kami memanfaatkan kebun sekitar sini," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
183 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved