Gadis yang Tinggal di Hutan Kaki Gunung Tangkuban Parahu Ini Bertekad Kuliah di Perguruan Tinggi

"Kalau yang lain itu menikah muda, aku mau buktiin aja sih kalau pendidikan itu penting"

Tribun Jabar/Irvan Maulana
Oktaviani Nusalamah yang tinggal di kaki gunung Tangkuban Parahu, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang 

IBARATKAN di film Tarzan, gadis cantik yang kini berusia 17 tahun ini lahir dan tinggal di dalam hutan yang terletak di kaki gunung Tangkuban Parahu, Desa Ciater, Kecamatan Ciater Kabupaten Subang.

Gadis cantik bernama lengkap Oktaviani Nusalamah yang kini tengah menempuh pendidikan di salah satu SMA di Bandung, merasakan pahit berjuang menempuh pendidikan semasa sekolah dasar.

Hal itu dikatakan Okta (sapaan akrabnya) ketika di temui Tribun di kediamannya di hutan kaki Gunung Tangkuban Parahu pekan lalu

Oktaviani Nusalamah yang tinggal di kaki gunung Tangkubanparahu, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang
Oktaviani Nusalamah yang tinggal di kaki gunung Tangkuban Parahu, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Letak pondok milik keluarga Okta berjarak hampir empat kilo meter dari jalan raya daerah Tanjakan Emen, menurut cerita Okta semenjak sekolah dasar ia rutin berangkat ke sekolah selepas ibadah subuh agar datang tepat waktu, namun tak sering juga ia dan kakak nya kesiangan saat tiba disekolah.

"Hampir 30 menit jalan kaki dari sini ke jalan raya, kadang dulu suka naik truk pengangkut teh, pas di jalan raya baru naik mobil Elf menuju sekolah. Yang bikin kesiangan itu nunggu mobik Elf nya suka lama," kata Okta di depan pondoknya.

Okta bercerita, meski kediamannya di tengah hutan, jauh dari kata layak akses transportasi dan fasilitas belajar, namun Okta tidak kehilangan semangatnya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Baca juga: Selamat dari Kecelakaan Beruntun di Tol Cipali, Subang, Inilah Profil Politikus Hanafi Rais

Menurut penuturan Okta, banyak teman sekelasnya semasa sekolah dasar, tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, banyak juga di antara sahabatnya putus sekolah di masa SMP karena harus menikah.

Menurut Okta, di Desa Ciater perempuan menikah di usia muda adalah hal yang lazim.

"Sahabat aku bahkan sudah banyak yang punya anak, padahal aku baru kelas 3 SMA sekarang," imbuhnya.

Ketika ditanya perihal motivasinya untuk tetap melanjutkan pendidikan Okta menjelaskan ia tak ingin dipandang sama seperti gadis lain di desa Ciater,

"Kalau yang lain itu menikah muda, aku mau buktiin aja sih kalau pendidikan itu penting, dan aku gak harus milih dimana aku sekolah atau dimana nanti kuliah itu semua keputusan ibu, yang penting nanti aku bahagia kalau lihat ibu bangga setelah selesai menempuh pendidikan tinggi," ujar Okta. (tribun jabar/irvan maulana)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved