Raudya Salshadila Raih IPK Sempurna

Dara Cantik Berusia 22 Tahun ini Senang Sekaligus Sedih Saat Diwisuda

"ada kemungkinan bahwa prosesi wisuda hari ini adalah momen terakhir untuk kita bisa kumpul lengkap dengan mengenakan baju toga"

Tribun Jabar/Cipta Permana
Raudya Salshadila 

MENGENAKAN kebaya merah marun, perempuan kelahiran Tanah Grogot Kalimantan Timur, 3 November 1998, senyumnya mengembang saat melangkah menuju podium, di mana Rektor Unpas dan para senat telah berdiri menunggu untuk menyambutnya dan memberikan ijazah.

"Rasanya bercampur aduk. Senang tapi juga sedih," ujar Raudya Salshadila, sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi itu saat ditemui seusai wisuda di luar aula Hotel Aryaduta, Bandung, yang menjadi lokasi gelaran wisuda Unpas, Sabtu (14/11/2020)

Raudya Salshadila, Dara cantik berusia 22 tahun itu dinobatkan menjadi wisudawan terbaik dengan capaian IPK sempurna, 4.00.

Berbeda dengan biasanya, wisuda kali ini tak dihadiri semua lulusan. Sebagian besar peserta
terpaksa mengikutinya secara daring karena pandemi Covid-19 masih terjadi.

"Perasaan senang karena bisa lulus dan wisuda tepat waktu, tapi juga ada sedih karena biasanya kalau selesai wisuda itu, harusnya bisa berkumpul dulu buat foto-foto dulu untuk melepas kangen sebelum pulang bareng orangtua. Apalagi, ada kemungkinan bahwa prosesi wisuda hari ini adalah momen terakhir untuk kita bisa kumpul lengkap dengan mengenakan baju toga, karena nanti semua pasti akan berjalan di jalur pilihannya masing-masing," ujar putri sulung dari pasangan Mirza dan Siti Hafsah itu.

Raudya mengatakan, tak pernah menyangka bisa mendapat IPK yang sempurna. Semasa kuliah, ia hanya berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap kegiatan.

Wisuda Universitas Pasundan di Hotel Aryaduta, Bandung, Sabtu (14/11/2020)
Wisuda Universitas Pasundan di Hotel Aryaduta, Bandung, Sabtu (14/11/2020) (Tribun Jabar/Cipta Permana)

"Enggak pernah menargetkan dapat IPK 4.00. Intinya cuma belajar aja sungguh-sungguh, aktif bertanya kepada dosen di dalam kelas kalau misalnya ada yang engga paham atau bingung, termasuk rajin menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dosen aja. Jadi jangan takut atau gengsi dibilang caper (cari perhatian) dan sejenisnya, karena pastinya dosen akan memberikan penilaian lain terhadap usaha kita," ujarnya.

Seperti mahasiswa lainnya, kata Raudya, perasaan malas kadang juga menghampirinya saat kuliah dulu.

"Biasanya untuk mengusir rasa malas dan kejenuhan, saya selalu bikin catatan goals-goals atau target dari rencana kegiatan yang akan saya lakukan, baik di laptop atau di buku catatan pribadi. Jadi begitu saya mulai merasakan malas, saya suka buka catatan itu untuk mood booster gitu. Kalau hal ini sudah biasa dilakukan, mau engga mau karena melihat target kerjaan yang harus diselesaikan pasti bakalan dikerjakan, termasuk saat menargetkan kapan beres skripsi, sidang akhir, dan wisuda," ujar Raudya.

Raudya pun mengaku belum menentukan target selanjutnya setelah lulus. "Sebenernya masih belum tahu sih ke depan mau seperti apa. Tapi yang pasti pingin cepet dapet kerja seusai bidang keilmuan saya di Komunikasi, malahan kalau bisa kerja sambil barengan lanjut kuliah S2," katanya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved