Berbekal Toa, Camat Astanaanyar Ingatkan Warganya Taati Protokol Kesehatan, Ibu-ibu Muda Tersipu

"Anak-anak juga harus mengenakan masker. Semua bisa terkena. Korona tak pandang bulu,"

Tribun Jabar/Tiah SM
Camat Astanaanyar Syukur Sabar menyusuri Gang Tresna Asih di RW 7, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Senin (9/11/2020). 

BERBEKAL toa yang volumenya disetel maksimum, Camat Astanaanyar, Kota Bandung, Syukur Sabar, menyapa dan mengingatkan warganya untuk selalu menerapkan protokol kesehatan agar terhindar dari Covid-19. Syukur seorang penyintas. Ia tahu betul rasanya terpapar korona.

Meski masih pagi, matahari sudah terik saat Syukur Sabar menyusuri Gang Tresna Asih yang panjang dan berkelok, di RW 7, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Senin (9/11).

"Ibu-ibu, bapak-bapak, tolong pakai maskernya. Memang sedikit repot, tapi ini harus agar terhindar dari korona," teriaknya sambil terus berjalan dan menyapa warga yang kebetulan berpapasan dengannya.

Sejumlah ibu-ibu muda yang baru saja pulang dari warung, berlari kecil sambil tersipu karena tepergok tak mengenakan masker. Beberapa yang kebetulan bekal, langsung memakaikan begitu tahu ada Camat Syukur datang.

Camat Astanaanyar, Syukur Sabar (kedua dari kiri), mendatangi warganya yang tak memperoleh bantuan sosial dari pemerintah awal September lalu
Camat Astanaanyar, Syukur Sabar (kedua dari kiri), mendatangi warganya yang tak memperoleh bantuan sosial dari pemerintah awal September lalu (Tribun Jabar)

Tak hanya yang tak mengenakan masker, Camat Syukur juga menegur ibu-ibu yang mengenakan masker, namun membiarkan anak yang digendongnya tanpa masker. "Anak-anak juga harus mengenakan masker. Semua bisa terkena. Korona tak pandang bulu," ujarnya.

Suasana pagi di Gang Tresna Asih memang selalu ramai. Semua warga beraktivitas di luar. Mulai dari yang sekadar berjemur sambil merumpi dengan tetangga, menyuapi anaknya sambil bercanda dan adu tawar dengan pedagang. Ada yang sibuk menyapu teras, menjemur pakaian, bahkan memandikan burung.

Berada di gang, memang membuat warga merasa seperti berada di pekarangan rumahnya. Ini pula yang membuat para penghuni gang kerap merasa aman meski tak mengenakan masker. Padahal, banyak orang lalu lalang di sana.

Syukur mengatakan, hal inilah yang sangat ia khawatirkan. "Sebab, jika sudah terpapar, selain sakit, kita harus menjalani isolasi minimal 14 hari. Sudah pasti sedih dan kesal," ujar Syukur yang pernah mengalami isolasi mandiri karena terpapar korona.

Syukur mengingatkan, sekalipun sudah berlangsung hampir setahun, pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Siapa pun bisa terkena jika tak disiplim menerapkan protokol 3M, mengenakan masker, mencuci tangan, dan selalu menjaga jarak.

"Saya ingatkan, walau di rumah, harus selalu cuci tangan sebelum makan atau tidur. Keluar rumah jaga jarak. Jika ngobrol dengan tetangga selalu pakai masker," pinta Syukur.

Syukur bersyukur, warga Astanaanyar, khususnya di RT 01 dan 02, RW 7 Kelurahan Cibadak, terbilang disiplin dalam menerapkan 3M. Ini terbukti dari belum adanya warga di RT 01 dan RT 02 yang terpapar korona. Tapi, ujarnya, jangan sampai lengah. "Virus ini masih ada dan mengancam siapa pun yang lengah," ujarnya.

Seperti sejumlah kecamatan lainnya di Kota Bandung, Kecamatan Astanaanyar termasuk kecamatan yang padat. Sebanyak 74.079 jiwa berbagi udara di kawasan seluas 2,79 kilometer persegi ini.

Warga Astanaanyar tersebar di enam kelurahan, yakni Kelurahan Karasak, Pelindung Hewan, Nyengseret, Panjunan, Cibadak, dan Karanganyar. (tribunjabar/tiah sm)

Ikuti kami di
Penulis: TribunJabar
Sumber: Tribun Jabar
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved