Jamasan Pusaka Kanjeng Prebu di Ciamis Tahun Ini Berlangsung Sederhana, Diisi Doa Agar Covid Berlalu

“Hari ini hanya ada tujuh pusaka utama yang dijamas, yakni empat bilah keris, satu pedang cis, satu pedang komando, dan satu kujang kuno,”

Tribun Jabar/Andri M Dani
Ritual jamasan di pelataran cungkup Makam Kanjeng Prebu di Kompleks Situs Jambansari, Ciamis, Minggu (1/11/2020) siang. 

BERBEDA dengan tahun-tahun sebelumnya, ritual jamasan pada tahun ini berlangsung sederhana. Tahun ini ritual memandikan benda pusaka peninggalan Kanjeng Prebu hanya diikuti puluhan orang, serta diisi doa-doa agar masa pandemi Covid-19 segera berlalu.

Biasanya, ritual adat yang berlangsung setiap bulan Maulud ini diawali dengan kirab ratusan benda pusaka peninggalan RAA Kusumadiningrat, Bupati ke-16 Galuh, yang sohor dengan sebutan Kanjeng Prebu.

Kirab dimulai dari Keraton Selagangga, yang kini menjadi Museum Galuh Pakuan di Jalan KH A Dahlan Ciamis, dilanjutkan dengan menyusuri sejumlah ruas jalan protokol mulai dari Jalan KH A Dahlan hingga Jalan RAA Kusumadiningrat, sebelum berhenti di Situs Jambansari, di mana ritual jamasan dilakukan.

Ritual jamasan di pelataran cungkup Makam Kanjeng Prebu di Kompleks Situs Jambansari, Ciamis, Minggu (1/11/2020) siang.
Ritual jamasan di pelataran cungkup Makam Kanjeng Prebu di Kompleks Situs Jambansari, Ciamis, Minggu (1/11/2020) siang. (Tribun Jabar/Andri M Dani)

Benda-benda pusaka dimandikan di pelataran situs dengan menggunakan air yang berasal dari tujuh mata air. Kirab pusaka Kanjeng Prebu, biasanya melibatkan ratusan orang dari berbagai masyarakat adat dan kabuyutan yang tergabung dalam Sadulur Galuh, keluarga besar RAA Kusumadiningrat, seniman budayawan, para pejabat, dan tamu-tamu dari berbagai keraton.

Tapi pada “jamasan” yang berlangsung, Minggu (1/11) siang, semua keramaian itu tak terlihat. Tidak ada kirab pusaka, tidak ada arak-arakan adat, apalagi seni helaran.

Ritual dipusatkan di pelataran depan cungkup makam Kanjeng Prebu yang berada di dalam kawasan inti Kompleks Situs Jambansari. Ritual hanya dihadiri kalangan terbatas. Tak lebih dari 50 orang, hanya keturunan langsung Kanjeng Prebu, perwakilan kabuyutan Sadulur Galuh, masyarakat adat dari Galuh maupun Galunggung, serta pengurus Yayasan RAA Kusumadiningrat.

Ritual jamasan di pelataran cungkup Makam Kanjeng Prebu di Kompleks Situs Jambansari, Ciamis, Minggu (1/11/2020) siang.
Ritual jamasan di pelataran cungkup Makam Kanjeng Prebu di Kompleks Situs Jambansari, Ciamis, Minggu (1/11/2020) siang. (Tribun Jabar/Andri M Dani)

Seperti biasanya, jamasan diawali dengan tawasulan, yang dipimpin Kuncen Jambansari, Nandang Sembada. Ritual inti, memandikan benda pusaka, dimulai setelah itu.

“Hari ini hanya ada tujuh pusaka utama yang dijamas, yakni empat bilah keris, satu pedang cis, satu pedang komando, dan satu kujang kuno,” ujar Nandang.

Selain menggunakan air yang berasal dari tujuh mata air, kata Nandang, jamasan juga menggunakan kembang tujuh rupa dan jeruk. Puluhan pusaka lainnya, termasuk trisula dan keris si betok, baru dijamas pada malam harinya oleh keluarga keraton Selagangga di lokasi yang sama.

Jamasan kemarin siang juga diramaikan tabuhan rebana dari Gunung Susuru, yang ditampilkan setelah acara memandikan pusaka selesai. Jamasan juga diisi tausiah tentang Maulud Nabi yang disampaikan Ustaz Imam, dan diakhiri dengan doa bersama, memohon keselamatan kepada Allah.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: TribunJabar
Sumber: Tribun Jabar
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved