Dede Komarudin Bikin Alat Musik dari Limbah, Sebelum Pandemi Omzetnya Rp 20 Juta Per Bulan

Saya memulai usaha ini sejak tahun 1990 setelah keluar sekolah. Awalnya, saya dagang, tapi banyak permintaan dari teman di Bali untuk membuat triple

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Dede Komarudin, perajin beragam alat musik dari limbah di kediamannya di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang 

BERBAGAI jenis alat musik perkusi dipajang rapi di rumah milik Dede Komarudin (51) di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Andai saja tak melihat langsung proses pembuatannya, sulit percaya bahwa semua alat musik itu terbuat dari limbah.

Di Cipacing, Dede mengelola tempat produksi "Pengrajin Alat Musik Pangestu". Ditemui di sana, Selasa (27/10/2020), Dede tengah membuat gendang triple yang terbuat dari bahan baku bekas gulungan benang dan kulit sapi.

Biasanya, kata Dede, ia juga membuat alat musik pukul lainnya seperti jimbe, kompang, bahkan terbangan. Ia bahkan juga membuat lidu-lidu, alat musik tiup berukuran satu meter yang terbuat dari kayu jati, yang biasanya dimainkan oleh suku Aborigin di Australia.

alat musik lidu-lidu produksi Cipacing, Sumedang
alat musik lidu-lidu produksi Cipacing, Sumedang (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Proses pengerjaan berbagai jenis alat musik ini, dilakukan sendiri oleh Dede. Mulai dari mulai mengukir, melakukan pengecetan menggunakan vernis, hingga menyetel suara supaya tidak sumbang saat dimainkan konsumen yang sudah memesan alat musik tersebut.

Dede tampak piawai saat menghias alat musik triple menggunakan cat dengan mengadopsi gambar atau konsep Suku Aborigin, sehingga alat musik itu tampak menarik dan sudah siap untuk dipasarkan.

"Saya memulai usaha ini sejak tahun 1990 setelah keluar sekolah. Awalnya, saya dagang, tapi banyak permintaan dari teman di Bali untuk membuat triple," ujarnya.

Ia mengatakan, pada masa-masa awal produksi, hampir semua alat musik produksinya ia pasok ke pemilik toko di Bali. Itu ia lakukan karena di sana banyak anak muda yang hobi bermain perkusi, terlebih pemilik toko di Bali itu kebanyakan teman-temannya.

"Jadi, kalau sudah ada pesanan dari teman saya di Bali, baru saya buatin. Bahannya, untuk triple banyak di tukang rongsokan, termasuk gendang plastik yang terbuat dari bekas drum plastik," ucapnya.

Selama beberapa tahun, kata Dede, pemasarannya hanya mengandalkan kenalan yang ada di Bali saja. Baru beberapa tahun yang lalu ada sedikit penambahan. Pemasarannya juga ia lakukan secara online.

"Pesanan teman di Bali juga sebenarnya banyak. Teman di Bali bahkan ngasih uang DP setiap kali memesan, kemudian saya produksi sehari, setelah barangnya dikirim, baru uang pelunasan ditransfer," kata Dede.

Ia mengatakan saat pertama kali memulai, modal awalnya sekitar Rp 50 juta. "Ternyata omzetnya sangat menggiurkan. Pada tahun 2019 saya sudah punya 15 karyawan," ujarnya.

Dede Komarudin, perajin beragam alat musik dari limbah di  Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang
Dede Komarudin, perajin beragam alat musik dari limbah di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Saat itu, permintaan gendang triple dari Bali saja bisa mencapai 200 set per hari, belum lagi pesanan alat musik lainnya, sehingga dalam kurun waktu itu, Dede mengaku bisa meraup omzet rata-rata hingga Rp 20 juta per bulan.
"Tapi, itu lagi masa jaya-jayanya, bisa meraup untung segitu, karena peminat musik perkusi di Bali masih banyak, terutama para musisi jalanan atau pengamen dan ada juga peminat dari komunitas musik perkusi di sana," katanya.

Untuk harga alat lidu-lidu berukuran 1,5 meter, Dede memasang bandrol Rp 450 ribu sebuah, gendang triple Rp 45 ribu satu set atau tiga biji, jimbe Rp 100 ribu, kompang Rp 200 ribu, dan gendang perkusi Rp 250 ribu.

Namun, kata dia, selama pandemi Covid-19, hampir satu tahun terakhir, semua alat musik itu sudah tidak laku karena semua toko musik milik temannya di Bali itu pada tutup, sedangkan penjualan online tidak terlalu bagus.

"Jadi, solusinya saya menawarkan ke setiap toko yang ada di Sumedang, Bandung, Tasik, dan Jakarta secara langsung. Tapi itu juga sudah susah. Untuk dapat Rp 1 juta juga susahnya minta ampun," ucap Dede. (tribunjabar/hilman kamaludin)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved