Berkunjung ke Galeri Cupumanik

Tidak Perlu Waktu Lama untuk Epin Syaprudin Membikin Satu Wayang Golek, Wajah Terserah Pemesan

"Kayu lame sebenarnya bisa juga. Tapi saya lebih memilih albasiah. Albasiah lebih tahan rayap dibanding kayu lame,”

Tribunjabar-job1/shania septiana
pembuatan wayang Golek oleh Epin Syaprudin di Cupumanik 

ZAMAN boleh saja berubah. Namun, kesenian tradisional tak akan pernah punah. Itu pula yang dirasakan Epin Syaprudin (67), satu dari sedikit perajin wayang golek di Kota Bandung yang masih tersisa.

TAK butuh waktu lama bagi Epin Syaprudin untuk membuat sebuah wayang golek. Cukup satu atau paling lama dua hari.

"Itu sudah termasuk dicat dan sudah dibajuin,” kata  kata Epin seraya menunjukkan wayang buatannya saat ditemui di Galeri Cupumanik, tempat ia dan enam pegawainya memproduksi sekaligus memajang wayang golek yang mereka buat, Selasa (6/10).

Hampir semua wayang golek buatannta, kata Epin, menggunakan kayu albasiah. "Kayu lame sebenarnya bisa juga. Tapi saya lebih memilih albasiah. Albasiah lebih tahan rayap dibanding kayu lame,” kata Epin.

Wayang Golek Cupumanik
Wayang Golek Cupumanik (Tribunjabar-job1/shania septiana)

Meski tak berada di tepi jalan protokol, tak sulit untuk mencari galeri yang berada di Jalan H Akbar, kawasan Jalan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung ini.

Lokasinya berada tak jauh dari Stasiun Bandung. Hampir semua warga yang sudah lama tinggal di sana bisa langsung menunjukkannya ketika ditanya letak galeri wayang golek ini.

Galeri Cupumanik didirikan Epin bersama kakaknya, H Herry Hermawan, 40 tahun silam. Bahkan, kata Epin, bisa dibilang Herry lah yang merintis galeri ini tahun 1977 lalu. Namun, sejak Herry meninggal, praktis Epin lah yang meneruskan pengelolaannya.

Epin mengatakan, ia sudah mulai membuat wayang sejak lulus dari STM. Meski demikian, kedekatannya dengan wayang sudah berlangsung sejak kecil. Orang tuanya, menurut Epin, adalah juga pembuat wayang.

"Beliau yang mengajari kami membuat wayang," ujarnya

Wayang buatan Epin adalah hasil modifikasi dari wayang tradisi, baik dari segi ukiran, pakaian, hingga pewarnaan. Epin mengaku, ia modifikasi sendiri. Modifikasi tak menjadi masalah, terlebih wayang yang mereka produksi bukan wayang untuk dipakai pertunjukan, melainkan wayang untuk suvenir.

Epin mengatakan, selain memodifikasi sendiri, tak jarang modifikasi juga mereka lakukan atas permintaan pemesan. “Sekarang banyak pembeli yang suka request wayang goleknnya.

Pengen mukanya kayak gimana, rambutnnya gimana, dan bajunya gimana, Banyak juga yang minta warna wayangnya seperti apa. Pemesan tinggal tunjukan fotonya aja, pasti kami bikinkan,” ujarnya.

Sebelum menempati galeri yang sekarang, Galeri Cupamanik berlokasi di Gang Umar, tempat ia dan kakaknya dilahirkan dan dibesarkan.

"Setelah pindah ke lokasi yang sekarang, penjualan suvenir dan produksi wayang berkembang lebih pesat. Pembelinya  datang dari banyak daerah, bahkan dari luar negeri seperti Jerman, Belanda, dan Belgia. Mereka datang ke sini dan memilih langsung,” kata Epin.

Produk kepala wayang golek di Galeri Cupumanik
Produk kepala wayang golek di Galeri Cupumanik (Tribunjabar-job1/shania septiana)

Epin mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 ini pengunjung yang mendatangi galerinya jauh berkurang. Meski demikian, itu tak terlalu mempengaruhi produksinya karena penjualan sudah dilakukan secara online.

Tak hanya wayang golek, di galeri ini juga terdapat kerajinan tangan, mulai dari tas, dompet, anyaman, miniatur gitar, serta beragam karya unik lain. Kecuali Sabtu dan Minggu, galeri ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00.

Epin berharap Galeri Cupamanik ini dapat terus ada dan dikelola hingga turun temurun. “Maunya sih, anak, cucu, keponakan, bisa  meneruskan ini,” ujarnya. (job1/shania septiana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved