Sosok Inspiratif

Dadan Hernawan Membuat Kaki Palsu Berbahan Khusus, Jika Ada Difabel yang Tidak Mampu Ia Beri Gratis

Kalau mampunya hanya Rp 2 juta, ya tidak masalah, saya bantu. Gratis juga saya kasih kalau memang benar-benar tidak mampu,”

Tribunjabar-job1/shania septiana
Dadan Hernawan membuat kaki palsu di bengkel kerjanya Jalan AH Nasution, Cibiru, Kota Bandung 

"SAYA enggak pernah takut ditipu. Nganter kaki ke Surabaya, yang enggak tahu ada alamatnya beneran apa enggak saja saya berangkat. Saya percaya, rezeki Tuhan yang atur...”

BEGITU ujar Dadan Hernawan (45), saat ditemui di bengkel kaki palsu miliknya di Jalan AH Nasution, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, pekan lalu. Seperti empat dari 10 karyawan yang bekerja di bengkelnya, sebelah kaki Dadan juga kaki buatan. Kaki kanannya terpaksa menyusul kecelakaan lalu lintas yang dialaminya 23 tahun silam.

"Ditabrak seorang mahasiswa mabuk saat melintas di Jalan Soekarno Hatta. Malam itu saya baru pulang dari tempat bekerja di SPBU," ujarnya mengenang.

Namun kehilangan sebelah kaki tak meruntuhkan semangat Dadan untuk berjuang. Dalam ketiadaan biaya Dadan membuat kaki palsunya sendiri di rumahnya. Satu yang tak disangka, kaki palsu buatannya ternyata juga diminati banyak penyandang disabilitas lainnya. Ini pula yang membuat Dadan akhirnya bulat untuk mulai mendirikan tempat produksi kaki palsu dan memulai produksinya pada 12 Maret 2010.

Kaki palsu produksi Dadan berbahan dasar khusus. Itu membuat penggunanya nyaman ketika memakainya. Dadan menjualnya dengan harga yang bervariasi.

“Di bawah lutut harganya Rp 3 jutaan, sementara di atas lutut sekitar Rp 8 juta. Tapi balik lagi, siapa yang beli dan semampu apa konsumen membeli barang saya. Kalau mampunya hanya Rp 2 juta, ya tidak masalah, saya bantu. Gratis juga saya kasih kalau memang benar-benar tidak mampu,” ujar warga Kali Lio Timur, Kelurahan Cisaranten Endah, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, itu.

Dadan mengatakan, dibandingkan dengan kaki palsu buatan rumah sakit, kaki palsu buatannya terbilang ringan. “Namun, tetap bisa dipakai berlari, salat, bersila, bahkan bawa motor. Beratnya cuma dua kilogram,” ujarnya.

Kaki palsu tersebut, ujarnya, ia buat secara manual. "Telapak kakinya menggunakan bahan kayu jati muda. Untuk tumpuan kerangkanya menggunakan besi stainless yang dilapisi spons hitam dan dibentuk sampai menyerupai bebtuk kaki,” ujar Dadan sambil memegang kaki palsu buatannya.

Seribu Kaki
Dadan mengaku, ia juga bekerja sama dengan lembaga zakat nasional yakni Inisiatif Zakat Indonesia dan Rumah Qur’an Violet yang sudah tersebar di banyak daerah. Melalui kerjasama tersebut, Dadan bisa membantu banyak difabel melalui program 1.000 kaki.

"Namun karena pandemi, kegiatan ini kini tertunda," ujarnya.
Selama 10 tahun menggeluti usahanya ini, Dadan mengaku sudah memproduksi tujuh ribuan kaki palsu. Pesanan bukan hanya berasal dari Kota Bandung dan sekitarnya, melainkan Semarang, Surabaya, Lampung, Jambi, Padang, NTB, dan Gorontalo. Bahkan dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Saudi Arabia, dan Jerman.

Dalam sebulan biasanya Dadan bisa memproduksi 20-60 kaki palsu. Namun sejak pandemi pesanannya menurun hingga 60 persen dari biasanya, ditambah banyak produksiannya yang harus tertunda.

“Sejak pandemi, kita memang sangat terganggu. Kita enggak bisa ngirim. Pemesan yang datang ke sini juga jadi jarang," ujarnya.

Meski pemesanan masih tetap bisa dilakukan secara daring, kata Dadan, ketidakhadiran pemesan ke bengkel membuat pengukuran menjadi agak sulit. Akhirnya, untuk pengukuran, mereka lakukan dengan video call.

"Kami arahkan mereka untuk mengukurnya sendiri, ngukur diameter amputasinya, ngukur panjangnya, sampai menyesuaikan dengan kaki aslinya,” ujar Dadan seraya mengatakan bahwa pembuatan kaki palsu ini mereka kerjakan berdasarkan pre-order.

Karena sedikitnya pemesan pada masa pandemi Dadan juga tak lagi terjun langsung dalam pembuatan kaki palsu di bengkel. "Padahal, biasanya saya sudah berada di bengkel sejak pukul 06.00,” ujarnya.

Dengan Hati
Selain dibutuhkan keterampilan dan jiwa seni, pembuatan kaki palsu, menurut Dadan, juga harus dilakukan dengan hati. Ini pula yang membuat pembuatan kaki palsu itu terkadang tak sekali jadi.

“Saya pernah bikin kaki palsu, saya bongkar lagi karena rasanya masih ada yang belum sempurna. "Butuh seni dan pakai hati karena persis seperti kaki yang asli,” kata dia.

Dadan mengatakan, hal tersulit dari rangkaian pembuatan kaki palsu adalah ketika sudah sampai ke tangan konsumen. Ada tanggung jawab moral yang harus dia emban, yaitu mengajarkan pengguna kaki palsu hingga bisa berjalan selancar mungkin menggunakan kaki palsu barunya.

“Yang paling sulit itu ngajarin pasien jalan, karena kan orang yang udah kehilangan anggota tubuhnya itu jadi temperamental, gampang kesel, dan marah-marah terus bawaannya. Jadi kita harus sabar ngajarinnya. Semuanya jadi balik lagi ke pasien. Ada yang satu jam langsung lancar, ada yang harus ber jam-jam baru bisa lancar,” kata Dadan.

Dalam perjalanannya, kata Dadan, banyak juga pasien yang berkonsultasi dahulu kepadanya sebelum memutuskan menjalani amputasi. Hal yang mereka konsultasikan biasanya seputar kaki palsu yang akan mereka gunakan nanti

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
99 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved