Kelompok Kreatif Difabel

Anwar Permana, Indra Sumedi, Iwan Ridwan, dan Yusuf Suhara Bikin kaki Palsu Berbahan Daur Ulang

Meski dibuat dari bahan daur ulang, kaki palsu buatan Anwan dan teman-temannya tidak kalah dengan kaki palsu buatan pabrikan

Tribunjabar-job3/Indra Rosidin
Anwar Permana menunjukkan Kaki palsu berbahan daur ulang di rumah kontrakan Jalan Kawaluyaan Baru No. 1, Kelurahan Sukapura, Kiaracondong, Kota Bandung 

SEBAGIAN  mungkin berpikir jika penyandang disabilitas tidak akan bisa membuat sesuatu yang lebih. Namun nyatanya tidak semua keterbatasan fisik mampu mengurungkan niat untuk tetap berbuat baik. Begitupun Anwar Permana (44),  salah satu pendiri sekaligus ketua dari Kelompok Kreatif Difabel.

Kelompok Kreatif Difabel berdiri pada tahun 2011. Anwar mendirikannya  bersama tiga rekannya,  Indra Sumedi, Iwan Ridwan, Yusuf Suhara yang biasa di panggil Jon.  Saat ini, ada 12 orang yang sudah tergabung di dalam kelompok ini.

Anwar  mengatakan, pembentukan Kelompok Kreatif Difabel atau  KKD  didasari keprihatinan banyaknya  difabel yang  tak mampu membeli kaki palsu karena harganya yang mahal. Ide untuk membuat kaki palsu sendiri datang dari Indra, yang memang berprofesi sebagai pembuat kaki palsu.

Menurutnya, jika mau membuatnya sendiri, harga sebuah kaki palsu itu bisa lebih murah.  Akhirnya, mereka pun sepakat untuk mulai memproduksi kaki palsu sendiri.

 “Namun, saat itu kami belum membentuk sebuah kelompok,  masih sebatas para  perajin yang bekerja bersama. Kelompok baru kami buat pada 2011,” kata  Anwar saat ditemui di rumah  kontrakanya di Jalan Kawaluyaan Baru No. 1, Kelurahan Sukapura, Kiaracondong, Kota  Bandung, belum lama ini.

Anwar mengatakan, karena permodalannya yang terbatas, berbagai upaya mereka lakukan untuk menekan biaya produksi. Salah satunya dari sisi bahan baku.

“Bahan baku kaki palsu kami ambil dari barang -barang bekas yang didaur ulang,” ujarnya.

Meski dibuat dari bahan daur ulang,  kaki palsu buatan Anwan dan teman-temannya tidak kalah dengan kaki palsu buatan pabrikan.  Selain kuat, kaki palsu produksi  KKD juga nyaman, dan tentu saja lebih murah.

Kaki palsu yang mereka produksi, kata Anwar, dijual dengan harga bervariasi, mulai dari yang termurah Rp 2 juta hingga yag termahal, Rp 12 juta. Namun, tak semua kaki palsu mereka jual. Sebagian mereka berikan secara gratis kepada yang membutuhkan.

“Kebanyakan orang-orang seperti kami  itu kan golongan menengah ke bawah, jadi dari kita ada bantuan kaya kaki palsu gratis, “ ujar Anwar

Anwar mengatakan kegiatan sosial ini sejatinya subsidi silang dari keuntungan yang mereka dapat dari penjualan kaki palsu. Jika ada yang terjual tiga atau empat,  mereka  sisihkan  penghasilan untuk mendonasikan kaki palsu gratis kepada yang benar-benar membutuhkan.

“ Alhamdulillah, sudah banyak yang terbantu. Namun, mereka yang memerlukan bantuan kaki palsu ini masih sangat banyak, sementara tanpa bantuan dari donatur, kemampuan kami sangat terbatas,” ujarnya.

“Inginnya sih, kaki palsu yang kami buat ini kami berikan cuma-cuma  untuk mereka yang membutuhkan lagi. Tapi, kan, kondisinya kami juga buka n orang berada,”lanjutnya.

Anwar berharap pemerintah bisa mendukung kelompoknya dengan memberikan modal dan pekerjaan.

“Kami enggak mengemis kok. Beri saja para difabel seperti kami ini pekerjaan  agar kami bisa saling membantu, “ ucapnya.

Kerajinan kaki palsu yang dibuat  KKD sudah tersebar di seluruh Indonesia dan membunyai beberapa kordinator di sejumlah wilayah.

“Ada  yang di Aceh, Lampung, dan berberapa kota di Kalimantan, “ ujarnya. (job3/indra rosidin)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
100 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved