Asep Mampu Kuliahkan Anaknya Hingga Jadi Dokter dari Profesinya Sebagai Tukang Servis Mesin Tik

“Satu hari bisa dua puluh mesin yang saya betulin, karena saking banyaknya yang pakai. Sekarang satu saja enggak ada,"

TribunJabar - job1/shania septiana
Asep ahli servis mesin tik di Pasar Elektronik Cikapundung, Bandung 

TRIBUNJABAR.ID - KAMIS pagi, sekitar pukul 09.00, langit Bandung sangat cerah. Ditemani senyum ramah dan raut wajah ceria Asep (56), ayah dari dua orang anak ini, bekerja di sebuah ruko milik sahabatnya, di Pasar Elektronik Cikapundung, kawasan Banceuy, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Kamis (17/9/2020).

Tidak hanya jual beli, dia juga menerima jasa servis mesin tik. Tahun 1989 adalah tahun pertama Asep melakoni pekerjaannya. Berawal saat ia tak lagi dikontrak oleh banyak instansi, dan tidak memiliki skill yang memadai, dia akhirnya menetapkan hati untuk melakoni pekerjaan ini.

Dulu Asep bekerja sebagai pegawai yang dikontrak oleh beberapa instansi pemerintahan. Tugasnya adalah memelihara alat tulis kantor, terutama mesin tik.

“Satu hari bisa dua puluh mesin yang saya betulin, karena saking banyaknya yang pakai. Sekarang satu saja enggak ada, dan udah enggak ada panggilan kontrak kerja lagi,” ujarnya.

Asep, penyedia jasa perbaikan mesin tik di kiosnya Pasar Cikapundung, Bandung
Asep, penyedia jasa perbaikan mesin tik di kiosnya Pasar Cikapundung, Bandung (TribunJabar - job1/shania septiana)

Tahun 1980 sampai 1990 merupakan masa kejayaan mesin tik. Tapi sekarang ruko yang buka dari pukul 08.00 hingga 16.00 ini, menerima jasa servis mesin tik hanya sekitar satu sampai dua unit per harinya.

Mesin tik yang dijual terdiri dari beragam harga, ukuran, jenis dan merek. “Kami jual di kisaran harga Rp 250 sampai Rp 300 ribu. Ukurannya ada yang double folio, ada yang satu folio atau ukuran 13 inci. Font-nya  juga beragam ada huruf kecil, sedang dan huruf besar. Terus merek yang paling bagus itu Brother dari Jepang, dan Olivetti yang antik,” kata dia.

Salma (22) , menceritakan pengalamannya menggunakan mesin tik dan komputer. “Pakai mesin tik itu ribet dan butuh tenaga lebih. Kalau komputer bisa copy paste. Itu kan 2 hal yang ada tapi di waktu dan teknologi yang berbeda,” kata mahasiswa tingkat akhir itu.

Peralihan kejayaan mesin tik ke komputer sangat Asep rasakan. Omzet yang didapat turun drastis terutama saat ini, di tengah pandemi Covid-19.

Tahun 2004 merupakan tahun di mana dia merasakan dampak yang sangat luar biasa atas kehadiran komputer. Bisa dibilang pendapatannya dulu ketika mesin tik masih jaya sangat fantastis. Sekitar Rp 8 juta per hari, itu hanya dari jasa servis saja, belum dari hasil jual beli mesin tik.

Asep, penyedia jasa servis mesin tik
Asep, penyedia jasa servis mesin tik (TribunJabar - job1/shania septiana)

Di masa kejayaan mesin tik, Asep sempat memiliki tujuh orang karyawan yang membantu dia dan sahabatnya melayani jasa servis dan jual beli. Bekerja sampai pukul 01.00 sudah menjadi makanan sehari-harinya. Pelanggan berdatangan dari banyak daerah.

“Dari Serang, Jakarta dan apalagi itu kalo anak-anak IPDN beli satu mesin aja, besoknya bisa satu barak pada datang ke sini buat beli mesin tik,” kata dia.

Asep bercerita, dari hasil penjualan mesin tik, dia mampu menguliahkan dua anaknya. Anak bungsunya berkuliah di Unjani jurusan Informatika semester 5. Anak sulungnya kuliah Kedokteran Unjani, dan sudah menjadi dokter di RS Sentosa.

Hidup di masa orde baru membut pengalamannya sangat luar biasa. Pria lulusan SMA 11 Bandung ini bercerita tentang dirinya yang lulus tiga kali masuk tentara namun harus gugur karena telatnya informasi yang dia dapat. Penyebabnya, proses komunikasi di zaman dulu sangat sulit. Ditambah, jika dia ingin memperjuangkan status kelulusannya tersebut, dia harus membayar Rp 250 ribu.

“Katanya bisa masuk, tapi saya harus bayar Rp 250 ribu, tahun segitu mana saya ada uang. Kalau mau dapet uang segitu harus jual tanah dulu 500 tumbak, tanah dari mana. Bahkan saya bakar ijazah SMA saya, saking kesalnya” kata dia.

Asep mengaku menyesal tidak bisa memaksimalkan diri ketika mesin tik sedang berjaya-jayanya. “Banyak sekali kesempatan dan peluang. Adik saya ijazahnya cuma SMP, tapi dia sekarang PNS. Hal terbodoh yang pernah saya lakukan adalah menyia-nyiakan kesempatan selama masa muda saya karena malas,” ujarnya. (job1/shania septiana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved